Mayoritas audiens khutbah Jumat di pedesaan seringkali memiliki tingkat pendidikan formal yang beragam, namun secara umum, mereka cenderung berpendidikan menengah ke bawah.
Pemahaman mereka terhadap materi khutbah lebih banyak dipengaruhi oleh pengetahuan agama yang didapat secara tradisional dari lingkungan keluarga, pengajian, atau pendidikan di pesantren, bukan dari kajian akademik.
Tingkat Pendidikan
Di pedesaan, audiens khotbah Jumat terdiri dari berbagai lapisan masyarakat, termasuk petani, pedagang, buruh, dan aparatur desa.
Tingkat pendidikan formal mereka umumnya bervariasi dari sekolah dasar hingga menengah, dengan persentase lulusan universitas yang lebih kecil dibandingkan di perkotaan.
Oleh karena itu, bahasa yang digunakan khatib harus sederhana, lugas, dan mudah dimengerti. Penggunaan istilah-istilah Arab digunakan secukupnya atau bahkan sebaiknya sesedikit mungkin. Jika pun digunakan harus dijelaskan dengan analogi yang relevan dengan kehidupan sehari-hari mereka.
Tingkat Pemahaman
Pemahaman jamaah di pedesaan terhadap khotbah Jumat seringkali bersifat pragmatis dan berorientasi pada praktik. Mereka cenderung lebih responsif terhadap materi yang langsung berkaitan dengan amalan ibadah, akhlak sehari-hari, atau masalah sosial yang mereka hadapi.
Mereka menghargai nasihat yang memotivasi untuk berbuat baik, menjaga silaturahmi, dan meningkatkan ketakwaan. Khatib yang efektif di lingkungan ini adalah mereka yang mampu menghubungkan ajaran Islam dengan kearifan lokal dan masalah riil yang dihadapi masyarakat, seperti pentingnya kejujuran dalam bertani atau menjaga kebersihan lingkungan.